.showpageArea a { text-decoration:underline; } .showpageNum a { text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; margin:0 3px; padding:3px; } .showpageNum a:hover { border: 1px solid #cccccc; background-color:#cccccc; } .showpagePoint { color:#333; text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; background: #cccccc; margin:0 3px; padding:3px; } .showpageOf { text-decoration:none; padding:3px; margin: 0 3px 0 0; } .showpage a { text-decoration:none; border: 1px solid #cccccc; padding:3px; } .showpage a:hover { text-decoration:none; } .showpageNum a:link,.showpage a:link { text-decoration:none; color:#333333; }

Jumat, 19 April 2013

Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi


Pengambilan Keputusan Dalam Organisasi
1.        Definisi Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan adalah inti dari manajemen dalam organisasi, yaitu hal yang dilakukan oleh ketua dalam suatu kegiatan yang dilakukan dalam organisasi untuk mengambil suatu tindakan atau pilihan yang harus dilakukan yang akan menghasilkan keputusan untuk kebaikan bersama (stephen P.Robbins: manajemen). Setiap ketua yang bertanggungjawab akan suatu kegiatan dalam organisasi ataupun ketua dalam suatu organisasi itu sendiri akan membuat keputusan yang baik karena mereka akan dinilai baik dari hasil keputusan tersebut.
Manajer pada semua tingkatan dan semua area di organisasi pasti akan membuat keputusan, artinya mereka membuat pilihan/keputusan mengenai tujuan organisasinya.

1.1.   Langkah-langkah dalam mengambil keputusan :
a.       Mengidentifikasi suatu masalah
Setiap keputusan diawali dengan masalah, yaitu perbedaan antara kondisi yang ada dan yang diinginkan. Masalah merupakan suatu halangan yang membuat pencapaian tujuan atau sasaran yang akan dicapai menjadi terhambat (Mary Coulter: manajemen).
b.      Mengidentifikasi kriteria keputusan
Setelah mengidentifikasi masalah harus mengidentifikasi kriteria keputusan yang penting atau relevan untuk memecahkan masalah. Setiap pembuat keputusan mempunyai kriteria yang memandu keputusannya, walaupun mereka tidak dinyatakan secara eksplisit.
c.       Mengalokasikan bobot pada kriteria
Jika kriteria yang relevan tidak sama arti pentingnya, pembuat keputusan harus memberi bobot pada masing-masing kriteria agar dapat memberinya prioritas yang tepat dalam membuat keputusan.
d.      Mengembangkan alternatif
Dalam proses pembuatan keputusan mengharuskan pembuat keputusan menyusun daftar alternatif yang ada yang dapat memecahkan masalah. Hal ini merupakan langkah dimana pembuat keputusan harus kreatif. Pada titik ini, alternatif hanya didaftar, tidak dievaluasi.
e.       Menganalisis alternatif
Setelah alternatif diidentifikasi, pembuat keputusan harus mengevaluasi setiap kemungkinan.
f.       Memilih sebuah alternatif
Dalam proses ini pembuatan keputusan adalah memilih alternatif terbaik atau yang menghasilkan total tertinggi.
g.      Mengimplementasikan alternatif
Pada proses ini, pembuat keputusan akan menerapkan keputusan dalam tindakan dengan memberlakukan kepada mereka yang terpengaruh dan membuat mereka berkomitmen terhadapnya.
h.      Mengevaluasi efektivitas keputusan
Pada langkah terakhir ini, proses pembuatan keputusan melibatkan evaluasi hasil keputusan untuk melihat apakah masalahnya telah terpecahkan.

2.       Jenis-jenis Keputusan
Manajer disemua jenis organisasi menghadapi jenis masalah dan keputusan yang berbeda pada saat mereka melakukan pekerjaannya. Bergantung pada sifat masalahnya, manajer dapat membuat satu atau dua jenis keputusan yang berbeda.
a.       Masalah yang terstruktur dan keputusan yang terprogram
Beberapa masalah bersifat langsung. Tujuan pembuat keputusan sudah jelas, masalah sering dihadapi, dan informasi mengenai masalah mudah didefinisikan serta diselesaikan.
Masalah dikatakan sebagai masalah yang terstruktur karena jelas, dikenal, dan mudah didefinisikan. Keputusan yang terprogram yaitu keputusan berulang yang dapat ditangani dengan menggunakan pendekatan rutin atau kebiasaan (stephen P.Robbins: manajemen). Karena masalahnya yang terstruktur, manajer tidak akan menghadapi kesulitan dan membuang waktu terlibat dalam proses pembuatan keputusan. Dengan jenis keputusan seperti ini, tahap pengembangan alternatif dari proses pembuatan keputusan tidak ada atau hanya diberikan sedikit perhatian. Karena sekali masalah yang terstruktur didefinisikan, solusi yang ada biasanya membuktikan dirinya sendiri atau paling tidak berkurang ke beberapa alternatif yang sudah tidak asing lagi dan telah terbukti sukses dimasa lalu. Manajer bergantung pada salah satu dari tiga jenis keputusan terprogram: prosedur, peraturan, kebijakan.
Prosedur adalah serangkaian langkah berurutan yang digunakan manajer untuk merespon masalah terstruktur (stephen P.Robbins: manajemen).
Peraturan adalah pernyataan eksplisit yang memberitahu manajer apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan (stephen P.Robbins: manajemen). Peraturan ini sering digunakan karena mudah diikuti dan memastikan konsistensi.
Kebijakan merupakan pedoman dalam pembuatan keputusan (stephen P.Robbins: manajemen). Berlawanan dengan peraturan, kebijakan menciptakan parameter umum bagi pembuat keputusan dan bukan menyatakan secara spesifik apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Kebijakan biasanya mengandung istilah mengambang yang membiarkan pembuat keputusan berinterpretasi.
b.      Masalah tak terstruktur dan keputusan tak terprogram
Semua masalah yang dihadapi manajer dapat dipecahkan dengan menggunakan keputusan terprogram. Banyak situasi yang dihadapi organisasi melibatkan masalah tak terstruktur, yang merupakan masalah hal yang baru atau tidak biasa dan yang informasinyatidak jelas atau tidak lengkap. Apabila masalahnya tak terstruktur, manajer harus mengandalkan pada pembuatan keputusan tak terprogram agar dapat mengembangkan solusi yang unik. Keputusan tak terprogrambersifat unik dan tidak berulang serta melibatkan solusi yang disesuaikan.

3.        Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan
Dalam praktiknya terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan. (Arroba:1998) menyebutkan 5 faktor yang mempengaruhi proses pengambilan keputusan, yaitu: 
a.     Informasi yang diketahui perihal permasalahan yang dihadapi.
b.     Tingkat pendidikan.
c.      Personality.
d.   Coping, dalam hal ini dapat berupa pengalaman hidup yang terkait dengan  permasalahan (proses adaptasi).
e.  Culture. Hal senada dikemukakan  Siagian (1991) bahwa terdapat  aspek-aspek tertentu bersifat internal dan eksternal yang dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan.

Adapun aspek internal tersebut antara lain :
a.  Pengetahuan. Pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang secara langsung maupun tidak langsung  akan  berpengaruh  terhadap  pengambilan  keputusan.  Biasanya semakin luas pengetahuan seseorang semakin mempermudah pengambilan keputusan.
b.   Aspek kepribadian. Aspek kepribadian ini tidak nampak oleh mata tetapi besar peranannya bagi pengambilan keputusan.

Sementara aspek eksternal dalam pengambilan keputusan, antara lain :
a.     Kultur
Kultur yang dianut oleh individu bagaikan kerangka bagi perbuatan individu. Hal ini berpengaruh terhadap proses pengambilan keputusan.
b.    Orang lain. Orang lain dalam hal ini menunjuk pada bagaimana individu melihat contoh  atau cara orang lain (terutama orang dekat ) dalam melakukan pengambilan  keputusan. Sedikit banyak perilaku orang lain dalam mengambil keputusan  pada gilirannya juga berpengaruh pada perilkau individu dalam mengambil  keputusan.

Dengan demikian, seseorang yang telah mengambil keputusan, pada dasarnya dia telah melakukan pemilihan terhadap alternatif-alternatif yang ditawarkan kepadanya. Kendati demikian, hal yang tidak dapat dipungkiri adalah kemungkinan atau pilihan yang tersedia bagi tindakan itu akan dibatasi oleh kondisi dan kemampuan individu yang bersangkuran,  lingkungan  sosial,  ekonomi,  budaya,  lingkungan  fisik  dan aspek psikologis.

Dalam  hal  mengambil keputusan,  antar  individu  yang  satu  dengan  individu  yang  lain  melakukan pendekatan dengan cara yang tidak sama. Setiap orang mempunyai cara unik dalam mengambil keputusan.  Jadi ada gaya yang berbeda-beda antar  individu  yang  satu  dengan  yang  lain  dalam  melakukan  pengambilan keputusan.
(Harren:1980) menyebutkan gaya  pengambilan  keputusan  adalah  cara-cara  unik  yang  dilakukan  seseorang  di  dalam  membuat  keputusan-keputusan  penting  dalam  hidupnya.
Gaya pengambilan keputusan bersifat melekat pada kondisi seseorang. Gaya pengambilan  keputusan  dipelajari  dan  dibiasakan  oleh  individu  dalam kehidupannya, sehingga menjadi bagian dan miliknya serta menjadi pola respon  saat  individu  menghadapi  situasi  pengambilan  keputusan.  Gaya  pengambilan  keputusan juga menjadi ciri atau bagian unik dari individu (Phillips, dkk. 1984).

Harren membedakan pengambilan keputusan ke dalam dua gaya pengambilan yang berseberangan yaitu gaya rasional dan intuitif. Penggolongan dua gaya ini di dasarkan atas:
a.     Tingkat individu menggunakan strategi pengambilan keputusan yang bersifat emosional.
b.   Cara individu mengolah dan menanggapi informasi serta melakukan evaluasi dalam situasi pengambilan keputusan.




Kesimpulan

Dalam pengambilan keputusan sebagaimana pembahasan di atas, ada beberapa faktor yang mempengaruhi terhadap keluarnya keputusan berdasarkan pada dua aspek, yaitu internal dan eksternal.
Faktor internal meliputi: pengetahuan dan kepribadian.
Aspek eksternal meliputi: kultur dan pengaruh orang lain.
Dalam analisis Arroba ada 5 yang bisa mempengaruhi pengambilan keputusan:
a.       Informasi yang diketahui perihal permasalahan yang dihadapi.
b.      Tingkat pendidikan.
c.       Personality.
d.   Coping, dalam hal ini dapat berupa pengalaman hidup yang terkait dengan  permasalahan (proses adaptasi).
e.       Culture

Selain itu antara satu orang pemimpin dengan pemimpin yang lain itu punya karakteristik berbeda dalam pengambil keputusan, sehingga akan terlihat bentuk dan cara sendiri-sendiri dalam menentukan sikap keputusan.








Sumber
P.Robbins, Stephen & Mary Coulter. 2005. Management, eight edition. Erlangga: Jakarta
Suharso, Puguh. 2013. Manajemen Pengambilan Keputusan. Index: Jakarta
P.Robbins, Stephen & Mary Coulter. 2005. Management, tenth edition. Erlangga: Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar